Urgensi Keterlibatan Keluarga dalam Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian
Lalu bagaimana peran pendidikan dalam mengikuti era yang semakin banyak berubah atau yang biasa disebut sebagai era kekinian? Tentu menjadi sebuah permasalahan yang wajib digarisbawahi dan diperhatikan lebih mendalam terkait seberapa jauh pendidikan berperan. Jika kembali kepada hakikat awal, maka terngiang kembali persoalan mengenai hakikat pendidikan beserta fungsi-fungsi dari pendidikan itu sendiri. Oleh karenanya sebelum berbicara mengenai pendidikan di era kekinian maka mari kita ulas kembali terkait apa sesungguhnya fungsi dari pendidikan itu sendiri.
Pada hakikatnya yang menjadi sasaran dari pendidikan yaitu manusia itu sendiri. Dengan adanya pendidikan maka akan dapat membentuk manusia-manusia seperti yang diinginkan. Hal tersebut selaras dengan fungsi pendidikan sebagai berikut: 1) pendidikan sebagai suatu proses transformasi budaya, 2) pendidikan sebagai proses dalam pembentukan pribadi seseorang, 3) pendidikan sebagai salah satu sarana menyiapkan warga negara, serta 4) pendidikan sebagai salah satu alternatif penyiapan tenaga kerja handal.
Jika kita perhatikan lebih mendalam, di era globalisasi ini dengan kemajuan teknologi khususnya teknologi komunikasi yang semakin jauh canggih maka menuntut peran aktif pendidikan dalam memberikan pagar-pagar atau benteng-benteng untuk mencegah pengaruh negatif yang datang. Apabila kelalaian dalam pendidikan terjadi maka dalam kurun waktu yang singkat akan dapat menghancurkan seseorang, sekelompok orang, suatu masyarakat, bahkan lebih parahnya akan dapat menghancurkan suatu bangsa dan negara. Oleh karenanya salah satu peran pendidikan yaitu untuk mengantisipasi keadaan masyarakat di masa depan. Antisipasi tersebut salah satunya yakni dengan memunculkan kebijakan-kebijakan dan upaya pendidikan masa kini dan masa yang akan datang.
Kebijakan-kebijakan serta upaya yang dimaksudkan di atas yaitu terkait hal-hal seperti antisipasi terhadap kecenderungan globalisasi yang semakin kuat, perkembangan dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat, perkembangan arus informasi yang semakin padat dan cepat, serta kebutuhan atau tuntutan masyarakat terhadap peningkatan layanan profesional di berbagai bidang atau aspek kehidupan manusia. Dengan adanya antisipasi terhadap perkembangan di masa depan tersebut maka selayaknya kita dapat sedikit menarik nafas lega dalam menghadapi era kekinian.
Dengan kata lain meskipun perkembangan serta perubahan era terus terjadi, tetapi hakikat serta fungsi dari pendidikan itu sendiri pada dasarnya ialah sama yaitu untuk mempersiapkan dan menjadikan manusia lebih baik di masa kini serta masa mendatang.
Pentingnya Pengawasan Pendidikan di Era Kekinian
Seperti yang telah diulas sebelumnya bahwa hakikat dan fungsi pendidikan pada dasarnya ialah sama yaitu untuk mempersiapkan dan menjadikan manusia lebih baik di masa kini dan masa mendatang maka sudah sewajarnya jika kita sebagai pelaku, pelaksana, maupun penonton dunia pendidikan turut andil dalam melakukan pengawasan pendidikan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa pendidikan telah terselenggara sebagaimana mestinya serta untuk meminimalisir kelalaian-kelalaian yang terjadi di dunia pendidikan.Keterlibatan seluruh lapisan masyarakat dalam mengawasi penyelenggaraan pendidikan sangat penting adanya. Hal ini dikarenakan penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan di seluruh daerah dan seluruh penjuru tentu tidak semuanya berjalan sesuai keinginan. Ada kalanya pelanggaraan besar maupun kecil terjadi dalam praktik pendidikan.
Contohnya saja perubahan tata cara bersikap antara seorang murid dengan gurunya. Kita tak perlu kembali ke masa lalu untuk mengetahui bagaimana penyelenggaraan pendidikan di masa lampau khususnya bagaimana etika antara guru dan murid masa itu. Dari berbagai sumber dapat kita ketahui bahwa pada masa itu guru sangat dihormati oleh muridnya. Tidak hanya murid, bahkan orang tua pun segan kepada guru. Apabila terjadi permasalahan dalam pembelajaran, orang tua tidaklah menyalahkan guru, yang ada malah orang tua memarahi anaknya karena tidak mematuhi apa yang dikatakan oleh gurunya.
![]() |
Contoh Akhlaq Siswa kepada Gurunya |
Pengawasan di dunia pendidikan tidak hanya tertuju pada bagaimana proses penyelenggaraan pendidikan berjalan akan tetapi juga mengenai apa serta bagaimana dengan guru dan murid dalam proses penyelenggaraan pendidikan. Ada kalanya kelalaian dalam dunia pendidikan terjadi akibat kekurang waspadaan pihak yang terlibat. Dengan adanya pengawasan inilah maka kelalaian-kelalaian tersebut dapat diminimalisir sedemikian rupa.
Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian
![]() |
Sumber gambar: http://mediaindonesia.com |
Secara umum fungsi dari lingkungan pendidikan yaitu untuk membantu seseorang dalam melakukan interaksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya baik lingkungan fisik, lingkungan sosial, maupun lingkungan budaya. Pada dasarnya lingkungan pendidikan dirancang sedemikian rupa untuk membantu mencapai tujuan pendidikan secara optimal. Selain itu penataan lingkungan pendidikan juga berperan penting dalam penyelenggaraan proses pendidikan yang praktis, efektif, efisien, dan menyenangkan.
![]() |
Tri Pusat Pendidikan. Sumber Gambar: kemdikbud.go.id |
Contohnya saja, seseorang dididik dengan etika sedemikian baik ketika di sekolah akan tetapi lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat tidak mendukung hal tersebut (contoh: ditunjukkan dengan keluarga serta masyarakat membiarkan anak mereka mengucapkan kata kasar dan tidak sopan seolah-olah kata kasar dan tidak sopan merupakan hal yang biasa) maka pembentuk pribadi anak dengan etika berbicara yang halus dan sopan menjadi tidak optimal.
Contoh lainnya, seorang anak dididik dengan penuh kesabaran di sekolah, diberikan penguatan-penguatan positif, ditanamkan rasa kepercayaan diri yang tinggi. Akan tetapi di lingkungan keluarga ataupun lingkungan masyarakat, anak tersebut terus menerus diejek karena ketidakmampuannya atau ditekan dengan ungkapan-ungkapan negatif, kasar, dan memojokkan. Maka pencapaian tujuan pendidikan di sekolah yang tadinya ingin mengembalikan rasa kepercayaan diri anak akan menjadi sulit untuk dilakukan.
Oleh karenanya terpapar dengan jelas pada Penjelasan UU No. 2 Tahun 1989 bahwa penyelenggaraan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah.
Menurut Ki Hajar Dewantoro (dalam Tirtarahardja, Umar, 2005:169) "Suasana kehidupan keluarga merupakan tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan orang-seorang (pendidikan individual) maupun pendidikan sosial". Di dalam keluarga, seseorang membentuk jati diri atau pribadinya. Peran orang tua ialah sebagai penuntun, pengajar, pengarah, dan sebagai pemberi contoh. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa pendidikan pertama yang diterima oleh seseorang ialah berasal dari keluarga. Tentu hal ini semakin menguatkan pernyataan bahwa lingkungan keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam kemajuan pendidikan seseorang.
Urgensi Keterlibatan Keluarga dalam Pembentukan Karakter Anak
Ketika membahas mengenai urgensi keterlibatan keluarga dalam pembentukan karakter anak, maka salah satu hal yang perlu kita soroti ialah bagaimana sikap anak di masa kini, apakah etika seorang anak semakin membaik ataukah semakin memburuk. Oleh karenanya berikut disajikan beberapa kasus yang terjadi akibat kurangnya keterlibatan keluarga dalam membentuk karakter anak yang telah kami dapatkan dari berbagai sumber:a. Kenakalan Remaja
Salah satu hal yang perlu kita perhatikan ketika membahas tentang kenakalan remaja yaitu penyebab dan asal mula kenakalan-kenakalan anak terbentuk. Biasanya kenakalan remaja mulai muncul pada usia 13 tahunan. Pada usia ini anak sudah mulai ingin mencari tahu dan mencoba segala macam hal yang ada dalam pandangannya. Apabila kita tidak membekali mereka serta tidak mengawasi dengan benar maka kelalaian yang hanya sedikit pun akan dapat menjadi sumber-sumber terbentuknya kenakalan anak.![]() |
Kenakalan Remaja | Sumber Gambar: http://dinsos.jatengprov.go.id/ |
Oleh karena itu penting bagi keluarga untuk selalu mengawasi serta mengarahkan anak akan hal-hal atau tindakan-tindakan yang baik dilakukan dan yang tidak baik untuk dilakukan. Tentu berbicara saja tidaklah cukup, perlu adanya sosok panutan di dalam keluarga yang nantinya dapat menjadi figur contoh perilaku anak.
b. Pedofilia
Salah satu kasus yang paling dikhawatirkan terjadi ialah kasus pedofilia. Pedofilia sendiri dapat diartikan sebagai salah satu gangguan kejiwaan yang ada pada orang dewasa dimana orang dewasa tersebut menjadikan anak-anak sebagai obyek mereka dalam melakukan aktivitas seksual. Kita tidak perlu menilik kasus-kasus luar negeri untuk mengetahui mengenai kasus pedofilia ini karena di Indonesia ini kasus pedofilia pernah marak terjadi.![]() |
Pedofilia | Sumber gambar httpiradiofm.com |
Oleh karenanya untuk mencegah pedofilia ini terjadi kepada anak maka peranan keluarga serta masyarakat sangatlah penting. Khususnya keluarga, orang tua harus selalu memantau segala kegiatan yang telah dilakukan oleh anaknya seharian. Pemantauan dilakukan tidak hanya dengan cara selalu mengikuti segala kegiatan anak saja akan tetapi dapat dilakukan dengan melakukan obrolan-obrolan ringan dengan anak setiap harinya mengenai kegiatan yang telah mereka lakukan, kesulitan yang mereka rasakan, kesenangan yang mereka dapatkan. Dari obrolan-obrolan semacam itulah orang tua dapat dengan cepat mengetahui apabila terdapat kejanggalan-kejanggalan yang terjadi pada anaknya.
c. Bullying
Bullying kini bukan menjadi masalah yang langka terjadi di Indonesia. Bahkan di dunia pendidikan pun bullying kerap kali terjadi. Bullying-bullying yang dimaksudkan di sini tidak hanya bullying dalam artian berat akan tetapi bullying ringan seperti bullying bentuk verbal. Ada kalanya anak kerap saling bercanda dengan menggunakan ejekan-ejekan atau panggilan-panggilan nama yang tidak sopan bahkan tidak senonoh. Hal-hal tersebut dapat dikategorikan sebagai bullying verbal mengingat orang yang mendapatkan perlakuan merasa tidak senang dengan perlakukan yang diterimanya.![]() |
Bullying | Sumber gambar : bubhub.com |
Dari ketiga hal tersebut baik kenakalan remaja, pedofilia, dan bullying sebenarnya dapat dicegah apabila perananan antara tri pusat pendidikan dapat terselenggara secara optimal. Kelalaian yang terjadi kepada anak dapat segera diatasi dengan cepat dan tepat jika seluruh pihak yang bertanggung jawab turut andil atau turut serta. Khususnya keluarga yang dianggap sebagai pihak yang paling dekat dengan anak maka sudah sewajarnya jika keluarga selalu menjadi yang pertama tahu dan yang pertama mengenali jika ada perubahan tidak wajar terhadap anak-anak.
Cara Keluarga Berperan Aktif dalam Mendidik Anak
Setelah mengetahui pentingnya peranan keluarga dalam membentuk karakter anak dan mendidik anak, lantas apa yang seharusnya dilakukan oleh keluarga agar pembentukan karakter anak dapat berlangsung secara optimal? Untuk itu ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu bagaimana proses perkembangan anak-anak. Pada dasarnya setiap anak mengalami perubahan baik pertumbuhan fisik dan perkembangan nonfisik yang meliputi aspek-aspek intelek, emosi, sosial, bahasa, bakat khusus, nilai dan moral, serta sikap. Dan dalam proses perubahan tersebut tentu akan ada perbedaan pada setiap individu. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya perbedaan kognitif, perbedaan individual dalam kecakapan bahasa, perbedaan dalam kecakapan motorik, perbedaan dalam latar belakang, perbedaan dalam bakat, dan perbedaan dalam kesiapan belajar.![]() |
Peran Aktif Keluarga dalam Mendidik Anak | Sumber gambar: inspirasi.co |
a. Sejak lahir – usia 1 tahun
Pada usia dimana anak masih berada di dalam kandungan, anak hidup dalam kondisi teratur di dalam kandungan. Akan tetapi begitu anak dilahirkan maka secara alamiah anak butuh untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya. Selain itu kebutuhan anak untuk hidup akan semakin dapat dirasakan oleh kedua orang tuanya. Ada kalanya secara alamiah untuk bertahan hidup, anak akan menangis. Tangisan tersebut merupakan isyarat dari anak kepada orang di sekelilingnya akan kebutuhan yang ia perlukan secepatnya seperti menangis untuk mendapatkan makanan karena lapar, menangis karena kedinginan, atau menangis karena kepanasan.![]() |
Sumber gambar : ibudanbalita.com |
Selain itu, kebutuhan anak pada usia ini salah satunya ialah ASI. Ada kalanya bagi ibu yang sibuk terkadang melewatkan pemberian ASI bagi anaknya. Ada kalanya pula orang tua mengganti ASI dengan menggunakan produk-produk susu instan lainnya. Padahal sebaik apapun kandungan yang ada di dalam produk-produk susu instan, belum tentu dapat lebih baik dari ASI yang dapat diberikan.
b. Usia 1 – 3 tahun
Pada usia ini aktivitas anak dalam bergerak akan mengalami perubahan secara pesat. Anak mulai belajar untuk berjalan dan menggerakkan anggota gerak tubuhnya untuk melakukan segala kegiatan. Pada tahapan ini orang tua sebaiknya aktif mengawasi kegiatan anak. Apabila dalam proses belajar tersebut anak mengalami kecelakaan baik ringan ataupun berat maka orang tua akan dapat segera memberikan tindakan. Kelalaian orang tua dalam mengasuh anak kadang terjadi di usia ini. Ada kalanya orang tua terlalu takut membiarkan anaknya bergerak bebas, dan ada kalanya pula orang tua terlalu membebaskan anak bergerak. Tentu hal tersebut masing-masing memiliki dampak baik buruknya sendiri-sendiri.![]() |
Sumber gambar: katalogibu.com |
Lain hal lagi ketika orang tua merasa tidak sabaran ketika anak mencoba makan sendiri dalam kurun waktu yang dirasa lebih lama jika dibandingkan dengan disuapi. Padahal pada saat itulah anak melatih keterampilan motorik tubuhnya. Jadi akan lebih baik apabila orang tua tidak hanya melihat berapa banyak waktu yang diperlukan anak untuk makan sendiri tetapi juga melihat berapa banyak kemajuan yang dihasilkan ketika anak mulai makan sendiri.
Selain keinginan untuk melakukan segala aktivitas sendiri, pada usia ini usahakan orang tua memberikan kesempatan pada anak untuk bermain dengan teman seusianya. Hal ini dimaksudkan untuk melatih dan mengenalkan anak terhadap lingkungan sosialnya. Anak juga akan mendapatkan kesempatan untuk secara tidak langsung mengetahui adanya aturan-aturan dalam suatu permainan. Aturan-aturan tersebut berupa aturan sederhana mengenai apa yang boleh ia lakukan dan apa yang tidak boleh ia lakukan.
Melalui kegiatan bermain dengan teman sebaya ini pula anak akan mulai mengembangkan keterampilan sosialnya. Kegiatan ini dapat menghindarkan anak dari sikap pemalu ataupun penyendiri menjadi sikap yang pemberani dan suka bersosialisasi. Hal ini tentu akan sangat berpengaruh pada perkembangan anak di masa mendatang.
c. Usia 3 – 6 tahun
Pada usia ini akan mulai meningkatkan kemampuannya dalam berbahasa. Anak akan mulai banyak berbicara bahkan banyak bertanya. Kelalaian yang sering kali terjadi pada pengasuhan anak usia ini yaitu orang tua marah atau meninggikan suaranya karena kesal dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh anak. Padahal seharusnya orang tua mendukung perkembangan bahasa anak.![]() |
Sumber gambar: http://perkembangananakusiadini3.blogspot.com/ |
d. Usia 6 – 12 tahun
Usia 6 – 12 tahun merupakan usia dimana anak mulai aktif berteman. Pada usia inilah keterampilan sosial mereka berkembang pesat. Orang tua sebaiknya tidak banyak ikut campur ketika anak mencoba untuk mendapatkan teman-teman barunya. Hal tersebut lantas bukan berarti orang tua dapat melepaskan anak dan membebaskan anak dalam berteman. Khususnya pada masa kekinian, tidak sedikit anak usia 6-12 tahun yang telah terjerumus dalam lingkungan yang tidak baik. Oleh karenanya pengawasan orang tua terhadap siapa saja yang menjadi teman anak mereka akan sangat dibutuhkan.![]() |
Sumber gambar: http://happyclub.id |
Pada usia ini, anak telah memasuki usia sekolah dasar yang mana dalam fase ini mereka akan mulai mengetahui ilmu pengetahuan-ilmu pengetahuan yang terbilang baru bagi mereka. Rasa penasaran mereka pun akan semakin meningkat. Salah satu hal yang biasanya menarik rasa penasaran mereka ialah mengenai seks dan bagaimana seorang bayi dapat lahir. Tentu kita tidak dapat memandang bahwa hal tersebut masih tabu untuk diketahui oleh anak. Bukan salah anak jika mereka mulai menanyakan hal tersebut mengingat hal tersebut memang sangat dekat dengan lingkungan anak seperti adanya ibu hamil atau melahirkan di lingkungan mereka. Untuk itu orang tua perlu memberikan jawaban yang dirasa tepat untuk anak mereka. Menunda jawaban tidak selalu memberikan hasil yang baik. Jika orang tua menunda menjawab pertanyaan anak maka ada kemungkinan anak akan mencari jawabannya di tempat lain yang justru tidak bisa kita ketahui apakah jawaban yang ditemukannya tersebut tepat atau tidak bagi mereka.
Selain suka berkelompok dengan teman-temannya, salah satu hal yang mencirikan anak usia ini yaitu mereka mulai suka menulis, membaca, serta tertarik dengan hal-hal seperti komputer atau hp. Jika kita pandang secara positif, hal tersebut dikarenakan anak-anak mulai suka mencari tahu informasi-informasi baru yang menurut mereka sangat menarik. Pada tahap ini tidak ada salahnya jika orang tua memberikan fasilitas tersebut. Akan tetapi perlu ditekankan bahwa fasilitas seperti komputer dan hp haruslah diberi aturan. Jangan sampai anak terlalu asyik dengan komputer atau hp sehingga menyebabkan kecanduan yang berbahaya.
Perijinan dari orang tua terhadap anak dalam menggunakan komputer atau hp harus diberi aturan yang tegas. Seperti yang telah diketahui bahwa komputer atau hp tidak hanya memberikan informasi yang positif saja akan tetapi juga memberikan informasi yang negatif. Jika orang tua lepas tangan maka anak akan dengan mudah terjerumus pada hal yang tidak baik. Lalu bagaimana caranya? Orang tua dapat memberikan ijin anak untuk bermain komputer atau hp misalnya dalam satu minggu hanya 2 jam dengan catatan ditemani orang tua. Hal ini dilakukan dengan alasan bahwa anak pada usia ini terlalu penasaran akan banyak hal sehingga ada kalanya mereka belum mengerti informasi mana yang boleh mereka ketahui dan mana yang belum boleh mereka ketahui. Pengawasan orang tua saat mereka bermain komputer dan hp tentu akan memberikan ketidaknyamanan bagi mereka. Oleh karenanya orang tua dapat bersandiwara seolah-olah tidak mengawasi meskipun sebenarnya tengah melakukan pengawasan.
Hal yang terkadang membuat orang tua sedih ialah pada usia ini anak terkadang mulai memberontak. Berontak yang dilakukan mungkin sebatas menunda tugas yang diberikan orang tua. Tetapi hal tersebut harus segera disikapi oleh orang tua. Penanganan orang tua terhadap berontak anak akan dapat mempengaruhi perilaku anak di usia berikutnya. Tentu orang tua harus menghindari bersikap otoriter atau pemaksa. Sifat seperti itu hanya akan membuat anak semakin tertekan dan berusaha memberontak.
e. Usia 12 – 18 tahun
Pada masa usia ini salah satu tugas naluriah yang ada pada anak yakni pembentukan identitas diri mereka. Secara alamiah, mereka akan membentuk identitasnya pada usia ini ketika mereka bergiat.Beberapa pertanyaan yang muncul ketika anak berada di usia ini ialah Siapakah saya? Apa yang akan saya lakukan? Kemana saya akan melangkah selanjutanya? Pertanyaan-pertanyaan ini tentu tidak bisa terjawab melalui jawaban orang tua. Anak sendiri lah yang nantinya akan menemukan jawaban tersebut. Lalu apa yang sebaiknya dilakukan oleh orang tua? Sepatutnya orang tua perlu mendukung akan segala keputusan anak. Ada kalanya orang tua perlu memberikan masukan-masukan terhadap pilihannya karena tidak menutup kemungkinan anak lalai dalam menjawab pertanyaan tersebut untuk dirinya.
![]() |
Sumber gambar: tips-mudah-sehat.blogspot.com |
Pada masa ini anak akan merasa bahwa dunia lain selain lingkungan keluarga yang paling penting baginya ialah lingkungan sekolah. Di masa ini anak akan merasa bahwa penting bagi mereka mengembangkan hubungan yang baik dengan teman sekolahnya. Ada masanya anak-anak merasa bahwa mereka lebih membutuhkan teman mereka daripada keluarga mereka. Namun sesungguhnya anak justru membutuhkan dukungan dari orang tua pada masa ini. Oleh karenanya sebaiknya orang tua atau keluarga dapat berempati, mencoba mengerti, bersikap mendukung, serta selalu menjalin komunikasi dua arah dengan anaknya. Dengan begitu diharapkan pembentukan identitas diri anak tidak mengalami permasalahan.
Setelah usia ini terlewati maka usia selanjutnya ialah usia dimana anak mulai memasuki dunia dewasa. Identitas diri anak telah melekat pada usia dewasa ini. Keberhasilan pembentukan identitas diri merupakan hasil dari proses sebelumnya serta pengaruh dari keterlibatan orang tua. Kekangan yang terlalu kuat dari orang tua mungkin dapat menjadikan anak sebagai anak yang penakut (takut mengambil resiko). Di lain hal kebebasan berlebihan yang diberikan oleh orang tua juga mungkin akan menjadikan anak sebagai anak pembangkang, pemberontak, atau bahkan anak yang sulit diatur. Oleh karenanya, porsi keterlibatan orang tua perlu diperhatikan.
Selain dengan mengetahui hal-hal yang dapat dilakukan orang tua dalam membentuk karakter anak sesuai usianya, orang tua juga perlu mengetahui hal-hal yang dapat dilakukannya dalam mengembangkan beberapa poin di bawah ini:
a. Mengembangkan rasa aman anak
Perlu timbul rasa aman dalam diri anak dalam menjalani kehidupan barunya. Rasa aman ini dapat berkembang ketika anak berada dalam usia sejak lahir sampai usia 1 tahun. Orang tua atau keluarga perlu berperilaku sedemikian rupa sehingga membuat anak merasa aman dan nyaman.b. Mengembangkan rasa otonomi diri anak
Pengembangan rasa otonomi diri anak ini terjadi pada usia 1 – 3 tahun. Di sini peran aktif orang tua ialah untuk mendukung perkembangan anak atas kemauannya menjadi dirinya sendiri, bersikap mandiri, serta mengembangkan keyakinan dirinya.c. Mengembangkan rasa inisiatif
Rasa inisiatif ini dapat ditunjukkan dengan mulainya anak mencoba berperan dalam keluarganya. Hal tersebut terjadi ketika anak berada di usia 3 – 5 tahun. Selain itu dalam masa ini anak masih dapat menerima secara cepat bahasa-bahasa baru.d. Mengembangkan rasa industri
Rasa industri yang dimaksudkan di sini ialah berkembangnya kemampuan anak dalam belajar, berkarya, dan berdaya guna. Rasa industri ini dapat berkembang ketika anak pada usia 6 – 12 tahun. Pada masa ini peranan orang tua dalam mendukung dan mengembangkan rasa percaya diri anak akan dapat mempengaruhi kinerjanya dalam belajar maupun berkarya. Tentu batasan-batasan dalam memberikan dukungan harus tetap diperhatikan oleh orang tua.e. Menemukan identitas diri
Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa ada usia dimana anak akan mencoba menemukan identitas dirinya. Usia tersebut yaitu usia 12 – 18 tahun atau sampai akhir masa remaja. Ketika anak menginjak usia ini, maka pengawasan orang tua harus tetap berjalan karena di usia inilah terkadang anak mulai labil dalam bersikap.Keterlibatan Orang Tua Jika Dipandang dari Jenis Pola Asuh
Seperti yang telah dijelaskan di atas, keterlibatan orang tua dalam pembentukan karakter anak serta dalam penyelenggaraan pendidikan anak sangatlah penting. Tentu setiap orang tua memiliki caranya sendiri dalam mengikutsertakan diri dalam penyelenggaraan pendidikan anak mereka. Tetapi ada kalanya keterlibatan tersebut justru memberikan dampak yang negatif bagi anak jika keterlibatan tersebut dilakukan tidak didasarkan pada porsinya. Untuk mengetahui apakah keterlibatan orang tua dalam penyelenggaraan pendidikan anak telah sesuai dengan porsi atau tidak maka muncullah beberapa teori mengenai pola asuh orang tua. Dari sikap yang Anda lakukan pada anak Anda maka Anda akan mengetahui termasuk pola asuh manakah yang selama ini Anda lakukan. Berikut beberapa jenis pola asuh yang dapat kami sajikan dari berbagai sumber:a. Pola Asuh Demokratis
Orang tua dengan pola asuh demokratis ini biasanya melakukan sesuatu demi kepentingan anak mereka. Ada kalanya orang tua dengan pola asuh demokratis ini melibatkan diri dalam setiap keputusan anak. Pendekatan yang dilakukan oleh orang tua dengan pola asuh demokratis ini yaitu pendekatan secara hangat sehingga memberikan kesan yang nyaman bagi anak. Selain itu orang tua biasanya akan bersikap realistis terhadap kemampuan anak. Orang tua tipe ini tidak akan memaksa anaknya untuk melakukan sesuatu di luar kemampuan mereka. Orang tua akan memberikan dukungan kepada anak mereka sesuai dengan kemampuannya.Dengan orang tua yang memiliki pola asuh demokratis ini biasanya anak akan tumbuh menjadi anak yang memiliki harga diri cukup tinggi, memiliki rasa percaya diri tinggi, mandiri, dapat mengontrol diri, serta senang belajar pada lingkungan.
b. Pola Asuh Otoriter
Orang tua dengan pola asuh otoriter ini biasanya merasa kesulitan untuk berhubungan dengan anak. Hal tersebut dikarenakan komunikasi yang dilakukan antara orang tua dan anak hanyalah komunikasi satu arah. Ada kalanya pula orang tua bersikap memaksa anak. Segala yang dilakuan oleh anak didasarkan pada keinginan orang tua. Bahkan apabila anak tidak mengikuti keinginan orang tua, orang tua tidak segan untuk memberikan hukuman pada anaknya. Setiap hal yang dikatakan atau yang diminta orang tua untuk dilakukan anaknya biasanya disertai ancaman-ancaman. Meskipun ancaman tersebut bukanlah ancaman besar seperti anak tidak akan dibelikan mainan jika tidak mau makan, atau anak tidak diperbolehkan menonton televisi apabila nilainya tidak naik.Sikap yang seperti itu bukannya memotivasi anak untuk menjadi lebih baik akan tetapi justru membuat anak semakin tertekan dan merasa dikendalikan. Anak dapat menjadi seorang yang selalu bergantung pada orang lain, sulit percaya diri, serta kurang berani dalam mengambil resiko. Oleh karenanya meskipun terkadang sikap tegas orang tua diperlukan akan tetapi orang tua harus tetap mengerti batasannya.
c. Pola Asuh Permisif
Orang tua dengan sikap permisif ini biasanya sangat disukai oleh anak-anak. Pendekatan yang dilakukan oleh orang tua dengan sikap permisif ini biasanya merupakan pendekatan yang hangat. Akan tetapi orang tua dengan pola asuh permisif ini juga memiliki kelemahan. Salah satunya ialah ketika orang tua dengan pola asuh ini memberikan kebebasan yang berlebihan pada anaknya. Tidak mengekang anak tentu sangat penting dilakukan, akan tetapi bukan berarti segala perilaku anak dibiarkan begitu saja. Ada saatnya orang tua harus turut campur ketika anak melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan.Apabila orang tua dengan pola asuh permisif ini memberikan kebebasan yang berlebihan pada anaknya maka salah satu hal yang dikhawatirkan ialah anak menjadi kurang dapat bertanggung jawab. Hal tersebut mungkin saja terjadi jika orang tua memberikan kebebasan yang tidak bertanggung jawab. Oleh karenanya meskipun orang tua ingin memberikan kebebasan pada anak maka sebaiknya berikan kebebasan tersebut beserta tanggung jawabnya. Sampaikan kepada anak bahwa segala yang anak perbuat harus berani dipertanggung jawabkan. Dengan begitu kebebasan anak sedikitnya akan mampu dikendalikan.
d. Pola Asuh Penelantar
Pola asuh penelantar merupakan salah satu pola asuh yang terkadang muncul dan melekat pada diri orang tua tanpa mereka sadari. Ciri dari pola asuh ini yaitu orang tua hanya memberikan sedikit sekali baik kebutuhan berupa uang, waktu, kasih sayang, dan lain-lain. Ada kalanya orang tua bersikap hemat untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Namun ada kalanya pula orang tua jarang berkomunikasi dengan anak karena kesibukannya. Perlu diperhatikan bagi setiap orang tua bahwa salah satu kebutuhan yang paling penting ialah berupa kasih sayang orang tua. Jangan sampai anak merasa bahwa mereka tidak disayangi bahkan tidak dibutuhkan oleh orang tuanya.Hal yang dikhawatirkan bagi anak yang tumbuh dengan abaian kedua orang tuanya ialah anak menjadi kurang percaya diri, berpotensi memiliki kemampuan tertinggal, kompetensinya kurang dapat berkembang optimal, muncul sifat rendah diri, serta kurang bersemangat. Bahkan apabila mereka memiliki permasalahan, mereka mungkin akan bingung dalam menyelesaikannya karena tidak ada tempat bagi mereka untuk berbagi perasaan, tempat bergantung, bahkan tempat pelarian.
Dari sekian banyak jenis pola asuh orang tua tersebut, lantas orang tua dapat mencoba mencari tahu dan memahami termasuk jenis pola asuh yang mana mereka selama ini. Setelah menemukannya, kemudian orang tua perlu mengetahui kelebihan serta kekurangan dari setiap jenis pola asuh tersebut. Dengan demikian maka harapan akan keterlibatan aktif orang tua dalam pembentukan karakter maupun dalam penyelenggaraan pendidikan anak akan dapat berjalan secara optimal. Dari hal tersebut pula maka peranan keluarga sebagai salah satu dari tri pusat pendidikan akan mampu mendukung hasil didikan yang positif.
Meskipun ada kalanya dimana setiap hal tidak berjalan sesuai dengan teori yang beredar, tetapi memberikan tindakan pencegahan serta memberikan yang terbaik tentu patut dilakukan. Tidak menutup kemungkinan ditemukan cerita-cerita atau fakta bahwa anak yang tumbuh di lingkungan tidak memadai, kedua orang tua yang abai atau sibuk sendiri, lingkungan yang penuh pengaruh negatif, ternyata anak tersebut tetap tumbuh menjadi anak yang sukses dan berkepribadian baik. Tetapi jika diteliti lebih lanjut maka kejadian seperti itu mungkin hanya satu berbanding ribuan. Bagaimanapun dengan diberikannya stimulus yang baik tentu akan sedikitnya memberikan respon yang baik pula.
Selain melihat dari jenis pola asuh yang dilakukan orang tua terhadap anak, porsi keterlibatan orang tua juga sangat penting untuk dipertimbangkan. Sesuai ulasan sebelumnya bahwa setiap individu memiliki perbedaannya masing-masing. Tentu dengan adanya perbedaan tersebut maka penanganan yang dilakukan akan berbeda pula. Ada saat ketika seorang anak lebih baik dengan pola asuh dominan demokratis dan ada pula saat ketika anak tersebut diasuh dominan dengan pola asuh permisif. Oleh karenanya memperhatikan secara cermat akan kebutuhan anak merupakan hal utama yang harus dilakukan oleh orang tua. #sahabatkeluarga