Mencari Loker di Kota yang Terlalu Sibuk: Sebuah Cerita dari Surabaya
Pagi itu Surabaya belum sepenuhnya bangun, tapi kota sudah bersuara. Knalpot
motor memecah udara, pedagang kaki lima menata gerobak, dan matahari naik
perlahan dari balik gedung-gedung tua yang menyimpan terlalu banyak cerita
tentang orang datang dan pergi. Di sebuah kamar kos sempit di daerah Rungkut,
seorang laki-laki duduk di tepi ranjang, menatap lantai sambil menghitung
napasnya sendiri. Hari itu terasa sama seperti hari-hari sebelumnya: berat,
tapi harus dijalani.
Sudah hampir lima bulan ia menganggur. Bukan karena malas,
bukan karena tak mau bekerja, tapi karena kenyataan tidak selalu sejalan dengan
niat. Ia pernah bekerja di pabrik, lalu di toko, lalu mencoba peruntungan di
pekerjaan serabutan. Semua putus di tengah jalan. Entah karena kontrak habis,
entah karena perusahaan tutup diam-diam. Sejak itu, rutinitasnya berubah
menjadi satu kegiatan utama: cari loker.
Awalnya ia optimis. Setiap pagi membuka ponsel, masuk grup
lowongan kerja Surabaya di WhatsApp dan Telegram. Puluhan pesan masuk setiap
hari, tapi sebagian besar sama. Gaji tidak jelas, jam kerja panjang, syarat
berlebihan. Ada juga yang meminta biaya administrasi. Ia belajar dengan cara
pahit: tidak semua lowongan benar-benar membuka peluang.
Waktu berjalan, tabungan menipis. Ia mulai mengurangi makan,
memilih nasi dan telur daripada lauk lain. Di luar, Surabaya tetap ramai,
seolah tidak peduli ada satu orang yang setiap malam menahan cemas sambil
memikirkan besok. Kadang ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia yang
kurang mampu, atau sistem yang memang menyulitkan.
Suatu siang, setelah pulang dari wawancara yang berakhir
tanpa kabar, ia duduk di warung kopi kecil. Tangannya refleks membuka ponsel,
bukan karena berharap, tapi karena sudah menjadi kebiasaan. Ia mengetik ulang
kata yang sudah ratusan kali ia ketik: “cari loker Surabaya”.
Di antara hasil pencarian yang itu-itu saja, ada satu
halaman yang tampak berbeda. Bukan sekadar judul sensasional, tapi tampilan
yang rapi dan langsung ke inti. Ia mengkliknya. Halaman itu berasal dari
Teleworks.id, tepatnya pencarian lowongan berdasarkan lokasi Surabaya:
https://www.teleworks.id/cari/lokasi/surabaya
Ia tidak langsung yakin. Pengalaman mengajarkannya untuk
curiga. Tapi ia tetap menggulir layar. Daftar lowongan muncul satu per satu.
Ada yang WFH, ada yang hybrid, ada juga yang on-site. Lokasinya jelas.
Deskripsinya tidak bertele-tele. Tidak ada janji muluk. Tidak ada kata-kata
bombastis.
Ia mulai membaca dengan lebih serius. Untuk pertama kalinya
setelah lama, ia merasa tidak sedang diburu waktu. Lowongan itu terasa seperti
ditulis oleh orang yang benar-benar mencari pekerja, bukan sekadar menjaring
korban. Ada posisi yang sesuai dengan kemampuannya. Syaratnya masuk akal.
Gajinya tidak fantastis, tapi jujur.
Malam itu, ia pulang ke kos lebih awal. Ia duduk di depan
laptop pinjaman temannya, memperbaiki CV yang sudah lama tidak disentuh. Ia
membaca ulang pengalamannya sendiri, menyadari bahwa ia tidak seburuk yang
sering ia pikirkan. Ia mengirim beberapa lamaran dari lowongan yang ia temukan
lewat halaman Surabaya di Teleworks.
Tidak ada perasaan euforia. Tidak ada keyakinan berlebihan.
Ia hanya merasa satu hal: kali ini, usahanya terasa lebih terarah.
Hari-hari berikutnya berjalan pelan. Ia tetap bangun pagi,
tetap membantu temannya jika ada kerjaan kecil, tetap menunggu. Tapi ada
perubahan kecil di dalam dirinya. Ia tidak lagi membuka puluhan grup lowongan
yang membuat kepala penuh. Ia fokus pada satu sumber yang menurutnya lebih rapi
dan jelas.
Tiga hari kemudian, sebuah email masuk. Subjeknya sederhana:
undangan wawancara. Ia membacanya dua kali, memastikan tidak salah. Nama
perusahaan itu sama dengan salah satu lowongan yang ia lamar lewat Teleworks.
Lokasinya di Surabaya Barat. Jadwalnya jelas. Tidak diminta biaya apa pun.
Ia datang lebih awal pada hari wawancara. Duduk di ruang
tunggu, ia memperhatikan orang-orang lain yang mungkin sedang berjuang dengan
cerita serupa. Wawancara itu tidak sempurna, tapi jujur. Ia menjawab apa
adanya. Ia tidak melebih-lebihkan dirinya.
Seminggu kemudian, panggilan itu datang. Suaranya di
seberang terdengar formal, tapi isinya sederhana: ia diterima.
Tidak ada teriakan. Tidak ada selebrasi besar. Ia hanya
menutup telepon, duduk diam, lalu menghela napas panjang. Beban yang selama ini
menekan dadanya tidak langsung hilang, tapi setidaknya ada celah untuk
bernapas.
Malam itu ia berjalan kaki menyusuri gang kos. Lampu-lampu
kecil menyala. Anak-anak tertawa. Surabaya terasa sedikit lebih ramah. Ia
sadar, yang berubah bukan kotanya, tapi posisinya di dalam kota itu.
Mendapatkan pekerjaan bukan akhir dari perjuangan, tapi awal
dari ritme baru. Ia tahu masih akan lelah, masih akan menghadapi tekanan. Tapi
sekarang ia tidak lagi berdiri di titik nol. Semua berawal dari satu keputusan
sederhana: mencari loker di tempat yang tepat.
Bagi orang lain, membuka halaman pencarian lowongan di https://www.teleworks.id/cari/lokasi/surabaya mungkin
hanya soal klik dan scroll. Tapi bagi dirinya, itu adalah momen ketika usaha
yang selama ini tercecer akhirnya menemukan arah. Sebuah langkah kecil di
tengah kota besar bernama Surabaya, yang membuktikan bahwa harapan kadang tidak
datang dengan gemuruh—ia datang diam-diam, lewat pilihan yang lebih jujur dan
lebih terarah.

Posting Komentar